Perbedaan Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC) yang Harus Anda Ketahui

Perbedaan DC dan DRC – Di era digital saat ini, perusahaan atau organisasi sangat membutuhkan Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC) untuk menjalankan bisnis mereka.

Selain sebagai tempat untuk menyimpan server, keperluan DC dan DRC untuk keamanan data yang tersimpan didalam server tersebut

Semua data-data penting perusahaan akan disimpan dan dikelola secara aman di data center, dan jika sewaktu-waktu terjadi bencana atau kejadian yang merusak, data akan tetap aman karena bisa dipulihkan dengan DRC.

Namun apakah kalian tahu perbedaan Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC)? Yuk simak artikel dibawah ini!

Apa itu Data Center?

Apa itu Data Center?

Sebelum kita bahas perbedaan DC dan DRC, alangkah baiknya kita tahu dulu apa itu data center dan apa itu disaster recovery center

Data center atau pusat data adalah suatu fasilitas fisik yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, dan menyediakan akses data serta layanan komputasi secara terpusat.

DC biasanya berisi server, perangkat jaringan, dan infrastruktur pendukung lainnya yang diperlukan untuk menyediakan layanan komputasi dan menyimpan data.

Fungsi utama data center adalah menyediakan keamanan dan ketersediaan tinggi bagi data dan sistem yang dihostingnya.

Data center dapat dioperasikan oleh organisasi sendiri atau oleh pihak ketiga yang menyediakan layanan hosting dan manajemen data center.

Dalam era digital saat ini, data center menjadi sangat penting bagi banyak organisasi yang bergantung pada teknologi informasi dan komunikasi untuk menjalankan bisnis mereka.

Data center dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, seperti hosting situs web, penyimpanan data, pemrosesan transaksi keuangan, dan banyak lagi.

Apa Itu Disaster Recovery Center?

Apa itu Disaster Recovery Center (DRC)?

Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas yang dirancang untuk membantu organisasi memulihkan operasi mereka setelah terjadi bencana atau kejadian yang merusak.

Contoh bencana atau kejadian yang merusak adalah bencana alam, serangan siber, atau kerusakan peralatan.

Pusat pemulihan bencana ini biasanya dilengkapi dengan infrastruktur dan peralatan yang dibutuhkan untuk memulihkan sistem, aplikasi, dan data organisasi setelah terjadi bencana.

Selain itu, ia seringkali dilengkapi dengan peralatan cadangan dan salinan data yang diperlukan untuk mengembalikan sistem dan aplikasi ke keadaan sebelum terjadi bencana.

DRC dapat dioperasikan secara internal oleh sebuah organisasi atau sebagai layanan dari pihak ketiga yang menyediakan infrastruktur dan peralatan untuk memulihkan sistem organisasi.

Ia juga dapat digunakan sebagai bagian dari rencana keamanan dan pemulihan bencana yang lebih luas.

Tujuan dari DRC adalah untuk membantu organisasi memulihkan operasi mereka dengan cepat dan efektif setelah terjadi bencana atau kejadian yang merusak.

Dengan memiliki DRC yang handal dan terencana dengan baik, organisasi dapat mengurangi dampak dari bencana dan mengurangi waktu pemulihan yang diperlukan untuk kembali beroperasi secara normal.

Apa Perbedaan Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC)?

Perbedaan Data Center dan Disister Recovery Center

Data center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC) adalah dua fasilitas teknologi yang berbeda meskipun keduanya terkait dengan pengelolaan data dan teknologi informasi.

Perbedaan utama antara DC dan DRC adalah tujuan dan fungsi masing-masing fasilitas.

Untuk lebih jelasnya, yuk kita simak penjelasan berikut ini.

Definisi

Data center adalah fasilitas yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, dan menyediakan akses data serta layanan komputasi secara terpusat.

Sementara Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas yang dirancang untuk membantu organisasi memulihkan operasi mereka setelah terjadi bencana atau kejadian yang merusak.

Tujuan

Tujuan utama dari DC adalah untuk menyediakan layanan IT dengan ketersediaan tinggi dan kinerja optimal serta keamanan data yang tinggi.

DC sering digunakan sebagai pusat operasi penting bagi perusahaan dan organisasi untuk menjalankan bisnis mereka.

Tujuan utama dari DRC adalah untuk memberikan solusi alternatif bagi organisasi agar dapat melanjutkan operasi mereka dalam situasi darurat dan setelah terjadi bencana.

Jenis

Jenis-Jenis Data Center (DC):

  1. Tier 1- Kapasitas dasar dengan UPS:
    DC yang memiliki satu jalur untuk kelistrikan, pendinginan, dan jaringan yang rentan terhadap gangguan dan downtime.

  2. Tier 2 – Kapasitas redundan dengan pendinginan dan daya:
    DC yang memiliki komponen redundan untuk jalur kelistrikan dan pendinginan untuk mengurangi risiko downtime dan memperbaiki kemampuan skalabilitas.

  3. Tier 3 – Dapat dipelihara secara bersamaan dan komponen apa pun dapat dilepas tanpa memengaruhi produksi:
    DC yang memiliki sistem redundan yang memungkinkan perbaikan dan pemeliharaan tanpa mempengaruhi operasi dan mengurangi downtime.

    Tier 3 juga memiliki sistem dual power feeds dan backup generator yang dapat mengatasi gangguan listrik.

  4. Tier 4 – Toleran kesalahan terisolasi dari semua jenis kegagalan:
    DC yang memiliki semua kriteria Tier 3 ditambah dengan sistem yang sangat redundant dan toleransi terhadap kesalahan yang lebih tinggi.

    Tier 4 juga memiliki kemampuan mengatasi segala jenis gangguan dan memiliki infrastruktur yang lebih aman dan terkendali.

Herza Cloud sudah menggunakan data center jenis Tier 4 di akhir tahun 2020.

PT Herza Digital Indonesia memutuskan untuk bergabung menjadi Partner dari PT DCI Indonesia.

DCI Indonesia adalah Datacenter Tier 4 pertama di Indonesia yang berlokasi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Datacenter bersertifikat TIer 4 ini, mampu memberikan jaminan Uptime sebesar 99,999%.

Jenis-Jenis Disaster Recovery Center (DRC):

  1. Cold DR: Skema dasar dalam DR (Disaster Recovery) dimana pada skema ini system melakukan backup dan hasil dari backup tersebut dapat di-download dan di-restore di perangkat yang sama atau pun perangkat lain.

  2. Warm DR: Skema ini memungkinkan Anda untuk dapat menjalankan kembali hasil backup/instant recovery yang ada pada data center untuk dijadikan sebagai production.

    Namun perlu dicatat tidak ada proses replikasi dan mirroring pada skema ini dikarenakan system yang dipulihkan berasal dari hasil backup yang dikehendaki akan ditambahkan charge compute point saat disaster terjadi.

  3. Hot DR: Skema DR yang paling canggih, dimana Anda tetap dapat menggunakan backup dan melakukan instant recovery namun perbedaannya adalah terdapat mirroring dan replikasi dari system yang ada pada production.

    Pada skema HOT DR, DRC dapat disesuaikan dengan topologi atau kondisi organisasi.

Pembentukan

Data center biasanya berada pada lokasi fisik yang permanen atau dapat berupa virtual di cloud, dimana infrastruktur TI terletak pada lokasi yang terpusat dan terkendali.

DC bertanggung jawab untuk menyimpan, mengolah, dan mengelola data serta aplikasi bisnis organisasi secara terus-menerus.

Sementara DRC berada pada lokasi fisik yang bersifat sementara atau dapat berupa lokasi virtual di cloud.

Tujuannya untuk memberikan akses dan layanan TI yang terkendali selama terjadi bencana atau keadaan darurat yang mengganggu operasi bisnis normal.

DRC memiliki tugas untuk memulihkan operasi bisnis dengan memperbaiki sistem dan infrastruktur TI yang rusak.

Sehingga organisasi dapat melanjutkan operasi bisnisnya dalam waktu sesingkat mungkin setelah terjadinya bencana.

Dalam konteks cloud, DC dapat berada pada lokasi virtual di cloud, sedangkan DRC dapat menggunakan konsep cloud untuk menyediakan layanan DR.

DRC cloud dapat berada di lokasi virtual di cloud yang sama dengan DC atau di lokasi virtual yang berbeda untuk memastikan keamanan dan redundansi data dan aplikasi organisasi selama bencana atau keadaan darurat yang mengganggu operasi bisnis normal.

Lokasi

Lokasi Data Center (DC) dan Disaster Recovery Center (DRC) sangat penting dalam memastikan keamanan dan redundansi data dan aplikasi organisasi.

Data Center umumnya berada di lokasi fisik yang aman dan dapat diakses oleh staf IT organisasi.

DC dapat berupa bangunan fisik yang dirancang khusus atau ruang data yang disewa dari penyedia layanan colocation.

Selain itu, DC juga dapat berada di cloud, di mana organisasi dapat menyewa sumber daya cloud untuk menyimpan dan mengelola data dan aplikasi mereka.

Sedangkan Disaster Recovery Center (DRC) harus berada di lokasi yang berbeda dengan DC dan harus dilindungi dari bencana yang sama yang dapat mempengaruhi DC.

DRC dapat berupa bangunan fisik atau pusat data yang disewa dari penyedia layanan colocation.

Selain itu, DRC juga dapat berada di cloud, di mana organisasi dapat menyewa sumber daya cloud untuk memulihkan data dan aplikasi mereka selama keadaan darurat.

Ketika memilih lokasi DC dan DRC, organisasi harus mempertimbangkan faktor seperti keamanan, ketersediaan jaringan, aksesibilitas, biaya, dan persyaratan peraturan dan kepatuhan.

Penting untuk memastikan bahwa lokasi DC dan DRC dapat memenuhi kebutuhan organisasi dan memberikan tingkat keamanan dan redundansi yang memadai untuk melindungi data dan aplikasi selama bencana atau keadaan darurat.

Mengapa Perusahaan Anda Membutuhkan Discover Recovery Center (DRC)?

Antisipasi Kegagalan Mesin dan Hardware

Meskipun perusahaan telah berinvestasi pada peralatan dan mesin yang canggih, DRC tetap diperlukan untuk memastikan bahwa data dan aplikasi perusahaan dapat diakses dan dipulihkan selama bencana atau keadaan darurat.

Meskipun perusahaan telah memiliki peralatan dan mesin canggih, mereka masih dapat mengalami kerusakan atau kegagalan akibat faktor-faktor seperti kebakaran, banjir, atau gempa bumi.

DRC memberikan redundansi yang diperlukan untuk melindungi data dan aplikasi perusahaan selama bencana atau keadaan darurat.

Dengan DRC, perusahaan dapat memulihkan operasi bisnis normal mereka dengan cepat dan efisien.

Sehingga dapat mengurangi dampak keuangan dan reputasi negatif yang diakibatkan oleh downtime yang lama.

Selain itu, DRC juga membantu perusahaan untuk memastikan bahwa hardware dan peralatan mereka dapat berfungsi dengan baik selama keadaan darurat.

Hal ini dapat membantu perusahaan untuk mengurangi risiko downtime atau kegagalan layanan yang disebabkan oleh masalah teknis.

Dengan demikian, meskipun perusahaan telah berinvestasi pada peralatan dan mesin canggih, DRC tetap menjadi komponen penting dalam strategi keamanan dan pemulihan bencana perusahaan.

Antisipasi Akibat Kesalahan Manusia

DRC tidak sepenuhnya dapat mencegah kesalahan manusia atau human error, tetapi dapat membantu perusahaan memulihkan data dan sistem yang terpengaruh oleh kesalahan manusia dengan lebih cepat dan efisien.

Kesalahan manusia adalah salah satu penyebab umum kegagalan sistem dan kehilangan data.

Misalnya, seorang staf IT yang tidak sengaja menghapus data penting atau membuat kesalahan konfigurasi sistem.

Dalam hal ini, DRC dapat membantu perusahaan memulihkan data dan sistem yang terpengaruh oleh kesalahan tersebut dengan lebih cepat dan efisien.

DRC dapat digunakan untuk membuat cadangan data yang teratur dan memastikan bahwa cadangan tersebut terpisah dari sistem utama untuk menghindari kerusakan atau kerugian akibat kesalahan manusia.

Selain itu, DRC juga dapat membantu perusahaan untuk melakukan pemulihan otomatis dalam kasus-kasus tertentu.

Hal ini berarti sistem akan secara otomatis memulihkan data dan sistem yang terpengaruh oleh kesalahan manusia atau kesalahan teknis lainnya tanpa campur tangan manusia.

Sehingga dapat mengurangi risiko kesalahan manusia selama proses pemulihan.

Dalam kesimpulannya, meskipun DRC tidak sepenuhnya dapat mencegah kesalahan manusia atau human error, tetapi dapat membantu perusahaan memulihkan data dan sistem yang terpengaruh oleh kesalahan tersebut dengan lebih cepat dan efisien.

Antisipasi Faktor Alam yang Tidak Dapat Diprediksi

Memiliki DRC di banyak lokasi yang secara teoretis aman dari bencana memang dapat meningkatkan keamanan dan ketersediaan data perusahaan saat terjadi bencana.

Dengan adanya DRC di lokasi yang berbeda, perusahaan dapat memastikan bahwa meskipun satu atau beberapa lokasi mengalami bencana, data dan sistem masih dapat dipulihkan dari lokasi lain.

Namun, penting juga untuk mempertimbangkan biaya dan efektivitas dari memiliki DRC di banyak lokasi.

Setiap lokasi DRC membutuhkan investasi dan biaya operasional untuk menjaga infrastruktur dan peralatan tetap berjalan dengan baik.

Selain itu, memiliki terlalu banyak lokasi DRC juga dapat membingungkan dan mempersulit manajemen dan pemulihan data.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan analisis risiko dan penilaian kebutuhan untuk menentukan jumlah dan lokasi DRC yang tepat.

Hal ini dapat membantu perusahaan memastikan bahwa investasi DRC dapat memberikan manfaat yang optimal dalam situasi bencana tanpa mengorbankan efektivitas dan efisiensi biaya.

Optimalisasi Layanan

Pelanggan saat ini sangat mengharapkan layanan yang cepat dan konsisten dari sebuah bisnis.

Ketersediaan infrastruktur yang dapat diakses dan berfungsi dengan baik adalah faktor kunci dalam memenuhi harapan pelanggan tersebut.

Jika terjadi bencana atau gangguan pada infrastruktur, maka bisnis dapat mengalami downtime yang dapat memengaruhi reputasi dan kepercayaan pelanggan.

Dengan menggunakan DRC, bisnis dapat memastikan ketersediaan infrastruktur dan layanan yang cepat dan konsisten, bahkan dalam situasi bencana atau kegagalan sistem.

DRC dapat membantu bisnis untuk memulihkan operasi normal dengan cepat dan memastikan bahwa layanan tetap tersedia bagi pelanggan.

Hal ini dapat meminimalkan downtime, mempertahankan kepercayaan pelanggan, dan membantu bisnis untuk tetap bersaing di pasar yang kompetitif.

Namun, perlu diingat bahwa DRC sendiri tidak cukup untuk memenuhi harapan pelanggan.

Penting untuk menjaga kualitas layanan, meningkatkan efisiensi, dan mengembangkan inovasi baru yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan.

DRC hanyalah salah satu aspek dari strategi bisnis yang lebih luas untuk memberikan layanan yang sangat baik kepada pelanggan.

Kesimpulan

Nah itu lah perbedaan antara DC dan DRC serta alasan mengapa perusahaan membutuhkan kedua layanan tersebut.

Bagi Anda yang tertarik untuk menggunakan fasilitas layanan data center, coba hubungi Herza Cloud, karena kami menyediakan Layanan Colocation di AREA31 Data Center.

AREA31 ini cocok dijadikan sebagai data center untuk primary dan Disaster Recovery Center (DRC) karena letaknya yang cukup strategis dan mudah diakses.

Selain itu, AREA31 sudah tersertifikasi ISO 9001, 27001, 45001, dan PCI DSS. Ia juga telah mendapatkan sertifikasi Rated 3 Facilities dan ISO/IEC 22237 Availability Class 3 & Protection Class 3 dari EPI.

AREA31 merupakan yang PERTAMA di ASEAN yang menerima ISO/IEC 22237. Hal itu membuat AREA31 dapat dipercaya dan mumpuni sebagai pusat data center.

Kami juga menyediakan Layanan Colocation Server 1U hingga 4U Server Rackmount, Tower Server dan juga Layanan Rack Colocation dengan 5U Slot, 10U Slot, 20U Slot (Half Rack), 45U Slot (Full Rack) dibeberapa Datacenter Tier3 dan Tier 4 Indonesia.

Untuk kebutuhan Sewa Rack baik itu Full Rack, Half Rack atau bahkan 10U, silahkan ke halaman Sewa Rack Colocation.

Untuk Budget Colocation, kami menyediakan Layanan Colocation Server Murah di Datahall, Kalibata dan Gedung Tifa.

Sedangkan untuk kebutuhan Tier 3 Datacenter, kami menyediakan Gedung Cyber, Neucentrix (Karet Tengsin), Biznet Technovillage, IDC Duren TIga dan NTT-JKT2 untuk Premium Datacenter Tier 3.

Tersedia juga Tier 4 Datacenter di DCI Cibitung dengan Uptime 99,999%

Yuk langsung hubungi Herza Cloud untuk informasi lebih lanjut!